Kamis, 26 September 2013

Peninggalan Majapahit di Kota Kediri Masih Angker ( Goa Selomangleng )

PicKediri - Sumur Peninggalan Majapahit yang cukup angker ditempat ini, Hari tertentu Ada Dewi Berpakaian Putih keluar dari Sumur, Tak jauh dari Sumur berdiri megah Hotel Bismo, di Alun Alun berdiri Patung Pahlawan Kemerdekaan Bismo. Seberang hotel ada Mal/Pusat Perbelanjaan Baru saja diresmikan, jadi Alun Alun sudah bukan Lapangan tapi seperti Taman saja, dimana Malam hari tempat berjualan serba ada dari sate Bekicot sampai Kambing dan sebagainya.

Tapi Kesakralan masih menghantui tempat ini, banyak para Spiritualis Meditasi, Semedi ditempat ini mencari Wangsit. Disinilah tempat tinggal Brahmaraja XI bila berada di Kediri, yaitu di Hotel Bismo dimana Beliau masih dipanggil Sang Prabu. Hotel Bismo milik cucu Tan Koen Swie Pahlawan Budaya dan bukunya diakui sebagai ‘SEJARAH KOTA KADIRI” yang diakui baik masyarakat maupun Pemerintah Kota Kediri Jawa Timur, Buku itu dilarang dibaca diera Orde Baru 1966-2000′. Yang berisi Ramalan Sabdopalon. Pada 2003 disinilah dipusatkan Ngeruwat Kota Kediri oleh Hyang Bhatoro Agung Suryo Wilatikto, acara pertama kalinya sejak 500 tahun Keruntuhan Majapahit [berita terdahulu] di Kadiri banyak Kerabat Hyang Suryo, bahkan Leluhurnya disarekan di Gunung Kelotok.

Peninggalan Sejarah Kota Kadiri sangat sesuai dengan Buku Tan Koen Swie karena bisa dilihat dengan mata telanjang bukan gaib, contoh Patung Totok Kerot/Durga yang di Kepruk Sunan Bonang kini berdiri Tegak dengan bahu kanan sempal/putus kena hantaman/Kepruk’an Sunan Bonang sang Wali yang anti Berhala/Musrik/Tohut/Patung. Desa Gedah yang dikutuk pun masih ada, Bahkan Pada Hari jadi Kota Kadiri (23/3/2002) ketika Brahmaraja XI lagi di Hotel Bismo ‘Ono Suworo Tanpo Rupo” suara tanpa ada Orang berbunyi “Nyang ngo Selomangleng” ber ulang-ulang.

Brahmaraja XI yang biasa dipanggil Eyang Suryo pergi mengikuti suara tadi ke Selomangleng yaitu Guwa Pertapaan Dewi Kilisuci, ternyata sampai disana bertemu seorang Pertapa, "lha, Kowe wis tak enteni ngger, ontong kupingmu apik iso nrimo wisik” Kamu sudah saya tunggu nak, untung telingamu bagus bisa mendengar suara niskala gaib, terjemahannya.

Kejadian Pertemuan justru Pura Majapahit Trowulan Lagi gawat di serbu dan diancam Bom Karyono dan sudah di tutup di larang kegiatan Hingga Hyang Suryo bisa keluyuran Sowan Leluhur. Karena di Trowulan ditutup itulah Hyang Suryo sering di Kediri atau di Surabaya kemudian Bali. Tulisan Sang Pertapa kini tertempel di Pusat Informasi Pura Ibu Majapahit sebagai bukti ilmiah, Ditambahkan 15-3 2002 Hyang Suryo dilantik sebagai Ketua IX Budaya Sepiritua Asli Nusantara untuk mengurusi Keluarga Mojopait Oleh Prof. DR. RM Wisnuwardhana Suryadiningrat di pendopo Agung Manunggale Kawula Lan Gusti Keraton Suryadiningrat Jogjakarta, kemudian diteruskan Wayangan di Alun Alun Suryodiningratan dengan Lakon ‘Turunnya Wahyu Mahkuto Ramo," sepulang dari Jogja masih mampir di Solo Gelar Budaya 2002 di Mangkunegaran, kemudian ke Kadiri bertemu pertapa (23/3/2003). dan (27/3/2003) juga tidak sengaja diminta Meruwat kota Kediri jawa Timur.

Selanjutnya Gelar “Budaya Pemersatu Bangsa” di Bali hingga terwujut Pura Ibu Majapahit Jimbaran untuk Melinggihkan Leluhur agar bisa tetap di Odali, dan Odalan Baru dilaksanakan (9/9/2009) yang lalu dengan sukses, dan masih banyak informasi aneh tapi ditunjang bukti ilmiah, seperti Mahkota Mjapahit, nantikan informasi selanjutnya. Lebih jauh dijelaskan bahwa Buku Tan Koen Swie, Sejarah Kota Kadiri baru didapat Awal 2009, dimana saat ada Pernikahan salah satu Cicit Tan Koen Swie Undangan Pernikahan dilampiri Sejarah Kadiri karangan Tan Koen Swie buku ini dikirim Pura Ibu awal 2009 setelah di Sah kan menjadi Buku Sejarah Kota Kediri, Juga Mangku GRP. Nokoprawiro membawa Copy Negarakertagama awal 2009 setelah Hyang Suryo meresmikan Candi Gajahmada di Kertosono yang dipugar Yayasan Negarakertagama, yang disebutkan oleh Ketua Yayasan Bpk. Harmoko penterjemahan belum selesai tuntas, sebagian Lontar ada yang terbakar. Ternyata setelah di cocok kan ada kemiripan Tokoh yang disebut dalam buku Tan Koen Swie tentang Buta Locaya.

Soal nama Sokro ini pernah pada 1968 di Trowulan ketika Melepas Djaini Putra Bpk. Saguh Jurukunci Makam Pendopo Agung, bertemu seorang Pertapa dari Gunung Semeru yaitu Mbah Tjokro juga memangil Eyang Suryo Dik Sokro, ada 2X Orang memanggil Eyang Suryo Sokro/Sakra. Bakan sebuah Foto Kuna 1968 Eyang Suryo pakai Blangkon tercantum nama SOKRO menghormati Mbah/Rama/Eyang Tjokro/Cokro yang memanggil Sokro untuk Eyang Suryo.b Jadi selama ini yang menyebut Eyang Suryo dengan panggilan Sokro 2 Orang yaitu Eyang Semeru dan Eyang Kadiri. (red)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar